Darapuspita terus merutuki Hiranya karena pria itu tiba-tiba saja meminta dirinya untuk menghampiri pria itu yang katanya sedang di Stasiun Pondok Cina ingin menghampiri Darapuspita ke Apartemennya, namun karena terjebak hujan, Hiranya yang kebetulan berjalan kaki dan tidak membawa payung mau tidak mau harus meneduh.
“Lagian lo ngapain sih pake jalan kaki segala? Biasanya juga mager,” omel Darapuspita yang kini terhubung panggilan telepon dengan Hiranya. “Gue jadi ikut ujan-ujanan kan nih gara-gara lo,” lanjut gadis itu sambil membetulkan genggamannya pada payung yang menjadi pelindungnya saat ini.
Dapat Darapuspita dengar kekehan berat Hiranya di balik ponselnya. “Yaa… maaf sih, udah cepet sini. Aku tunggu ya,” lalu setelahnya panggilan telepon mati begitu saja membuat Darapuspita berdecak kesal.
Sesampainya di toko buku bekas yang Hiranya maksud, Darapuspita dapat melihat Hiranya yang tertawa karena pakaian gadis itu— Darapuspita masih mengenakan piama, rambutnya dikuncir asal, serta boneka kelinci yang berada di genggaman tangannya.
“Ngapain coba lo bawa-bawa boneka?” tanya Hiranya di tengah tawanya membuat Darapuspita membelalakan matanya sendiri karena baru sadar bahwa sedari tadi ia masih menggenggam bonekanya.
“Lo, sih! Gue lagi asik tidur siang malah diganggu! Jadi kebawa kan,” omel Darapuspita bertepatan dengan hujan yang tiba-tiba saja turun semakin lebat.
Darapuspita dengan cepat mendekat pada Hiranya supaya dirinya tidak terciprat hujan meskipun ia menggunakan payung.
“Sini-sini,” Hiranya menarik pelan tangan Darapuspita ke arahnya. “Tunggu sampe reda dulu aja ya? Kalo sederes ini mah meskipun pake payung kita bakal tetep kuyup,” usul Hiranya yang dijawab anggukan pelan oleh Darapuspita.
Gadis itu melihat-lihat sekitar toko yang dipenuhi buku di bagian kanan dan kirinya— bahkan setiap sudutnya. “Lo sering ke sini?” tanya Darapuspita pada Hiranya yang kini mulai membuka salah satu buku kesukaannya yang berjudul Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono.
Hiranya mengangguk sebagai jawaban tanpa menatap ke arah Darapuspita dan fokus pada bukunya.
Darapuspita hanya mendengus dan kembali menatap tetesan air hujan yang mengguyur habis Kota Depok siang ini. Lalu tiba-tiba saja Darapuspita teringat sesuatu.
“Eh, Ra,” panggil Darapuspita membuat Hiranya menoleh. “Kemaren gue liat di list JGTC taun ini bakal ada MALIQ & D’Essetials, ikut yuk?” ajak Darapuspita mengingat Hiranya yang sepertinya grup musik tersebut.
Hiranya terlihat berpikir membuat Darapuspita berdecak. “Yaelah, kan di date ideas lo juga ada tuh tulisan segede Indonesia, NONTON KONSER MALIQ & D’ESSENTIALS,” ledek Darapuspita lalu tertawa setelahnya.
Bukannya menjawab, Hiranya justru memanggil Darapuspita sambil menyerahkan buku yang tadi ia baca. “Eh, Rum, tolong pegangin bentar deh,” pinta Hiranya membuat Darapuspita menerima buku tersebut.
Lalu setelahnya Hiranya terlihat sibuk mencari sesuatu di kantong celananya. “Nyari apaan sih?” tanya Darapuspita.
“Nih, tolong pegangin juga,” pinta Hiranya lagi, kali ini ia memberikan sebatang rokok yang baru saja ia ambil dari kantongnya pada Darapuspita. Lalu setelahnya Hiranya kembali terlihat sibuk mencari sesuatu lagi di kantongnya.
Darapuspita hanya berdecak melihat Hiranya yang terlihat ribet di matanya. Lalu fokus gadis itu beralih pada satu batang rokok yang kini ada di tangannya. “Hmmm… ada rumus menarik apa di batang rokok Hiranya kali in—” ucapan gadis itu terhenti setelah melihat tulisan yang sedikit berbeda namun pernah ia lihat sebelumnya di batang rokok Hiranya yang jatuh di Jalan Margonda beberapa waktu lalu, meski akhirnya berakhir sedikit tragis.
Darapuspita tertawa.
“Kok malah ketawa, sih?” tanya Hiranya mengerutkan keningnya.
“Ini lo nembak gue?” tanya Darapuspita di sela tawanya sambil melihat kembali tulisan Let’s be real, Darapuspita. Yang ada di batang rokok Hiranya.