“Lo nggak apa-apa? Nggak nabrak kan? Mobil lo juga nggak ada yang lecet kan? Aman?” Jati memegang kedua pundak Darapuspita dan menatap gadis itu dari atas sampai bawah memastikan bahwa gadis di hadapannya benar baik-baik saja.

Setelah mendapat kabar dari Oca bahwa Darapuspita nekat menyetir ke Bandung dengan mobilnya yang sudah lama ia diamkan di parkiran apartemen tentu saja membuat Jati khawatir bukan main. Bagaimana pun ia sudah menganggap Darapuspita sama seperti sahabatnya yang lain.

“Gue nggak apa-apa, Jati,” jawab Darapuspita berusaha tersenyum dengan mata sembabnya. “Hiranya gimana?”

Jati menoleh sekilas ke rumah Hiranya yang sekarang mulai ramai berdatangan orang-orang dan kerabat besarnya. “Dia sempet nangis pas di Depok, tapi pas di sini dia bener-bener keliatan tenang.” jawab Jati.

Darapuspita ikut menatap ke arah rumah Hiranya, dari kejauhan dapat gadis itu lihat Hiranya yang sedang mengobrol dengan beberapa tamu. Di saat yang sama Jati mengajak Darapuspita untuk masuk dan menghampiri Hiranya, namun dengan cepat Darapuspita menolaknya. “Gue di sini aja, nunggu temen-temen yang lain. Lo temenin Hiranya terus ya, Jat?”

Jati terdiam sejenak mendengar ucapan Darapuspita yang terdengar kurang masuk akal baginya.

“Lo… lagi kenapa sama Je?” tanya pria itu.

Darapuspita meremas pelan jari-jari tangannya sendiri. “Semalem gue minta kita udahan,” jawab Darapuspita tanpa berani menatap kedua bola mata Jati.

Melihat Jati yang tidak langsung menjawab dan hanya diam, Darapuspita akhirnya berani mengangkat wajahnya dan melihat ekspresi Jati.

Jati menunjukkan sedikit senyumnya, meskipun Darapuspita tau ada sedikit perasaan kecewa di balik senyum tipis itu.

“Nggak apa-apa, Rum. Lo berhak atas apapun yang lo mau—asalkan itu emang bener-bener kemauan lo,” Jati menepuk pelan sebelah pundak Darapuspita dan kembali berucap sebelum akhirnya meninggalkan Darapuspita sendiri. “Tapi gue harap, udahan sama Hiranya itu bukan keinginan lo yang sebenernya. Gue harap ada alasan di balik itu semua, Rum.”


Nares, Reno, dan juga Oca akhirnya sampai di Bandung tepat setelah proses pemakaman Ibu berlangsung. Ketiganya dengan segera menghampiri Darapuspita dan sama seperti Jati, mereka menyerang Darapuspita dengan berbagai macam pertanyaan karena gadis itu nekat menyetir ke Bandung seorang diri di malam menuju pagi tadi.

“Hiranya gimana, De? Lo udah ketemu dia?” setelah menyerang Darapuspita dengan omelan serta pertanyaan-pertanyaan karena Darapuspita membuat mereka khawatir, Reno kembali ke topik awal alasan mereka menginjakkan kaki di tanah Bandung.

Gelengan kepala Darapuspita tentu membuat ketiganya bingung, mau tidak mau Darapuspita akhirnya menceritakan kejadian semalam ketika ia meminta Hiranya dan dirinya untuk menjadi asing seperti semula.

Nares menjadi yang paling pertama berkomentar karena Reno dan Oca terlalu kehabisan kata-kata. “Gue tau, De, lo punya hak buat lanjut atau nggak sama Hiranya. Tapi, gue cuma gak bisa bayangin aja gimana sakitnya Hiranya sekarang.”

Darapuspita tau bahwa dirinya adalah salah satu alasan dari segala rasa sakit yang hari ini datang pada Hiranya dan kalau ia bisa mengulang waktu beberapa jam saja, ia berharap bahwa dirinya tidak akan menjadi salah satu alasan dari segala rasa sakit itu.

Sama seperti Nares, Darapuspita juga tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya Hiranya hari ini dan gadis itu bahkan tidak tega hanya untuk sekedar membayangkannya. Melihat Hiranya yang berusaha mati-matian menunjukkan senyum terpaksanya di depan para tamu menambah rasa sakit yang menghujam Darapuspita berkali-kali.