TW // suicidal thoughts
Darapuspita menggenggam erat sekotak kue pancong cokelat-keju yang baru saja ia terima dari driver ojek online yang sengaja ia pesan di tengah-tengah waktu ia menyelesaikan soal Ujian Akhir Semester mata kuliah terakhirnya. Entah keberanian dari mana, gadis itu berniat untuk memberikan kue pancong tersebut pada Hiranya Jayastu meskipun Darapuspita sendiri tidak yakin apakah Hiranya mau menerimanya.
Dari kejauhan, Darapuspita melihat Jati yang baru saja keluar dari kelasnya—namun tidak bersama Hiranya melainkan bersama Ghiffari. Gadis itu memutuskan untuk menghampiri Jati.
“Jat, Hiranya mana?” tanya Darapuspita membuat Jati sedikit terkejut karena kehadiran gadis itu yang tiba-tiba.
“Wah, kalo Je mah udah dari tadi cabutnya. Kebetulan gue emang sengaja ngumpulin jawabannya telat, sih, makannya keluar terakhiran,” jawab Jati lalu melihat ke arah plastik yang ada di tangan Darapuspita. “Itu buat Hiranya?” tanya Jati yang dijawab anggukan oleh Darapuspita.
“Hmmm… Coba deh lo cek parkiran motor, kadang anaknya suka nyebat dulu di sana,” usul Jati yang akhirnya diikuti oleh Darapuspita.
Sesampainya di parkiran motor, Darapuspita mengerutkan keningnya karena rupanya parkiran sore itu sangat sepi dan hanya tersisa beberapa motor. Mata gadis itu mencari keberadaan motor Hiranya yang cukup mudah dicari.
Darapuspita menghembuskan napas kecewa ketika tidak menemukan motor tersebut. “Yah, udah pulang kali ya,” ucap gadis itu dan berbalik untuk kembali ke lobi depan.
Namun, langkah gadis itu berhenti ketika melihat buku hitam yang sangat familiar baginya tergeletak begitu saja di dekat tangga menuju parkiran.
“Loh? Ini kan buku Hiranya?” gumam Darapuspita mengingat buku yang ada digenggamannya sekarang adalah buku Hiranya yang selalu pria itu bawa ke mana-mana. Buku yang berisikan tulisan-tulisan pria itu.
Entah apa yang Darapuspita pikirkan sore itu, ia membuka buku hitam yang sudah terlihat usang itu dan meskipun sebelumnya ia sudah pernah membaca beberapa isinya, ia baca kembali tiap lembaran itu dengan tatapan nanar karena merindukan sang penulis.
Senyumnya terukir ketika melihat salah satu halaman yang berjudul Di Dalam Hatiku, Harum Selalu Namamu.
Ra, aku cukup sering meniupkan doa untuk mereka-mereka yang kukasihi. Tahun ini aku tambahkan satu insan lagi yang akan kulimpahkan doa-doa baik untuknya kepada Yang Maha Kuasa.
Ra, kulimpahkan segala pintaku untukmu.
Ra, kutuliskan nama Harum-mu di segala ucapan doa baikku.
Supaya kamu selalu bahagia, supaya segala tenang selalu mendekap hangat tubuhmu, supaya kuat kakimu melangkah menuju tujuan yang akan kamu jadikan tumpuan, supaya kokoh tubuhmu melawan para sedih yang tidak akan pernah puas mengganggu, supaya tumbuh selalu cinta tulusmu untuk ia yang kamu cintai.
Ra, supaya namamu selalu nyata di hatiku.
Ketika membacanya, perasaan hangat memenuhi diri gadis yang bernama Darapuspita Harum. Ia buka kembali lembaran selanjutnya yang berisikan tulisan untuk Yaskintani dan membacanya.