Terlalu banyak definisi mengenai jenis cinta yang Darapuspita Harum ketahui, namun tak pernah satupun dari definisi itu ia rasakan.
Sebelum bertemu Hiranya, Darapuspita tidak pernah tahu rasanya dikuasai oleh perasaan menggebu dan penuh kupu-kupu hanya dengan melihat pria itu. Sebelum bertemu Hiranya, Darapuspita tidak pernah tahu rasanya mementingkan satu orang diatas segalanya termasuk dirinya sendiri. Sebelum bertemu Hiranya, Darapuspita tidak pernah tahu rasanya khawatir ketika orang yang kita cintai memiliki sedikit luka yang dapat mengganggunya.
Darapuspita mencintai Hiranya.
Namun, jenis lain dari kata cinta membuatnya takut.
Cinta tanpa harus bersama adalah salah satu jenis cinta yang Darapuspita ketahui dan takuti.
Pikiran gadis itu penuh dengan pemikiran bahwa dirinya telah membebani Hiranya dan banyak orang. Karenanya, kehidupan Hiranya terganggu bahkan terekspos begitu saja di publik. Darapuspita yakin, jauh di dalam lubuk pria itu, Hiranya pasti merasa terganggu.
Malam itu pikirannya berkecamuk. Bertabrakan satu sama lain.
Darapuspita berjalan keluar dari lobi gedung apartemennya dengan baju tidur serta boneka kelinci kesayangannya yang beberapa tahun lalu diberikan oleh Manggala. Air mata terus bercucuran di pipinya membuat beberapa orang yang berpapasan dengannya menatap gadis itu dengan tatapan aneh.
“Neng, mau ke mana?” tanya satpam lobi yang sudah cukup hafal dengan wajah Darapuspita.
Darapuspita terdiam sejenak. “Mau makan pecel lele.” jawabnya dengan wajah datar serta air mata yang masih bercucuran.
Satpam itu menatapnya dengan tatapan aneh, lalu mengangguk kaku dan kembali mempersilakan gadis itu untuk jalan keluar dari gedung apartemen.
Baru saja Darapuspita akan melanjutkan langkahnya, suara lain yang tiba-tiba saja memanggil namanya membuat langkah gadis itu berhenti tepat di dekat tangga jembatan penyebrangan jalan Margonda yang ada di depan gedung apartemennya.
“Harum!”
Dia Hiranya Jayastu Martaka.
Pria itu terlihat berlari dengan jaket hitamnya menghampiri Hiranya, lengkap dengan senyum cerianya yang hanya dapat dilihat oleh orang-orang terdekatnya. Darapuspita adalah salah satu yang beruntung karena dapat melihatnya.
Semakin dekat Hiranya, semakin deras juga air mata yang turun di pipi gadis itu. Ia genggam kuat-kuat telinga panjang boneka kelinci yang sedari tadi menemaninya.
“Hiranya…”
“Rum— Loh? Eh lo kenapa? Kenapa nangis?” baru saja Hiranya mengangkat sebelah tangannya untuk mengusap pipi Darapuspita, gadis itu justru malah menahan tangan Hiranya.
“Ra, menurut gue kita sampe di sini aja.”
Kalimat yang baru saja keluar dari mulut Darapuspita membuat Hiranya mengernyitkan dahinya, lalu pria itu terkekeh pelan. “Apa sih, Rum? Udah yuk masuk, dingin nih, nanti lo—”