Hiranya menyukai hal-hal yang mampu menyimpan banyak kenangan.
Seperti kamera hitam yang mungkin jarang ia gunakan, namun cukup sering ia buka hanya untuk melihat isinya. Lalu seperti buku hitam milik Bapak yang kini menjadi miliknya, buku yang berisikan tulisan-tulisan tangannya untuk orang tersayangnya.
Hiranya juga menyukai rumah Bandung.
Karena rumah Bandung menyimpan begitu banyak kenangan, lebih banyak dari kamera dan buku hitamnya. Entah bagaimana Bapak dan Hugo dengan mudah memilih untuk meninggalkan rumah indah yang menyimpan begitu banyak kenangan itu.
Rumah yang ada Ibu di dalamnya.
Lalu satu hal yang tidak patut untuk dilupakan adalah Jalan Margonda. Hiranya juga menyukai Jalan Margonda karena jalan yang satu ini turut serta menyimpan banyak kenangan untuknya.
Kenangan mengenai satu gadis yang ia cinta.
Akhir-akhir ini semua terasa begitu membosankan bagi Hiranya. Semuanya terlihat hitam, gelap, tak berarah. Meskipun Hiranya menyukai warna hitam, namun ia tidak menyukai hitam yang ia rasakan kali ini.
Hiranya menjalani hidup tanpa arah seolah-olah hari-harinya hanya ia lalui karena ia butuh menghirup udara.
“Sumpah, matkul pemodelan nih akal-akalan siapa sih— aduh!” Hiranya yang semula berjalan tanpa melihat arah di sekitaran Jalan Margonda karena kebetulan pria itu sedang mencari tempat fotokopi, memberhentikan langkahnya sejenak ketika tak sengaja pundaknya menabrak seseorang.
Oh, rupanya semesta masih sama dan masih memberi bagian untuk Hiranya, Darapuspita, dan Jalan Margonda.
Sama seperti gadis di hadapannya yang kini terdiam dengan tumpukan kertas di tangannya, Hiranya juga terdiam. Menikmati waktu yang ada dengan memandang sosok yang sudah lama tidak ia lihat kehadirannya.
“Sorry,” ucap gadis itu memecah lamunan Hiranya.
Baru saja Hiranya akan berucap, namun Darapuspita sudah lebih dulu memberinya senyum singkat dan pergi meninggalkannya di Jalan Margonda sendiri hari itu.
Hiranya kira, semesta benar-benar masih memberinya bagian atau halaman untuk kisahnya juga Darapuspita. Namun sepertinya tidak.
Dan hari itu meskipun Jalan Margonda tetap bising seperti biasanya, entah mengapa perasaan asing sangat terasa di hati Hiranya Jayastu Martaka.