Ibu menyukai sepi.
Sama seperti sebuah syair lagu yang hari-hari menjadi teman Ibu menikmati sentuhan angin sore yang terkadang sendu.
Sepi itu indah, percayalah.
Membisu itu anugerah.
Ibu sering kali berucap bahwa sepi itu adalah sesuatu yang bisa kita nikmati. Bersama sepi, kita mampu menyatu dengan diri kita sendiri.
Malam itu, satu detik setelah Hiranya membaca pesan dari Hugo dengan segera ia menelpon adik bungsunya untuk memastikan bahwa Hugo mengetik pesan tersebut secara sadar dan sayangnya, kabar tersebut adalah benar adanya.
Ibu pergi untuk selamanya.
Ibu pergi disertai perasaan sepi.
Ibu pergi disertai perasaan sakit hati pada pujaan hatinya sendiri.
Hugo berkata bahwa sehari sebelum Ibu pergi, Bapak dan Ibu berdebat hebat. Hugo mengakui bahwa perdebatan itu disebabkan oleh dirinya—tepatnya mengenai jurusan kuliah yang akan ia ambil nanti. Bapak tentu saja menentang Hugo yang sedari dulu bersikukuh untuk mengambil jurusan Ilmu Hukum dan hari itu Ibu yang biasanya diam justru membela Hugo habis-habisan.
Dan masih di hari yang sama, Bapak mengucapkan kata-kata yang menyakiti hati Ibu. Bapak berkata bahwa Ibu tidak seharusnya ikut campur karena Ibu tidak mengetahui apa-apa, Bapak berkata bahwa Ibu bukanlah Ibu yang baik karena selalu diam dan tidak pernah tau apa yang baik untuk anak-anaknya, Bapak berkata bahwa Ibu tidak berguna.
Ibu diam beberapa saat sebelum akhirnya sesak napas kembali menyerangnya lalu akhirnya dilarikan ke rumah sakit. Tak kuasa untuk menunggu kehadiran Yaski dan Hiranya, Ibu pergi terlebih dahulu untuk selamanya.
Di sisi lain, setelah mendengar penjelasan Hugo, suasana Kos Babeh yang biasa ramai akan tawa serta kekonyolan tujuh penghuni di dalamnya kini penuh dengan suara tangisan Hiranya Jayastu yang begitu memilukan. Setelah mendapat penolakan dari Darapuspita, rupanya Tuhan kembali memberikan perasaan sakit lain yang jauh lebih menyakitkan dari perasaan sebelumnya untuk Hiranya.
Tyaga menjadi orang pertama yang memeluk Hiranya dengan erat malam ini, lalu Jati menjadi orang pertama yang menangis bersama Hiranya malam ini. Gama dan Gentala berusaha untuk menyiapkan kendaraan serta beberapa pakaian Hiranya sebelum mereka berangkat ke Bandung. Dan Mario yang masih berdiri di dekat pintu kamar kos Hiranya dengan tatapan nanarnya.
Kehilangan adalah yang paling menyakitkan.
Pukul empat dini hari mereka sampai di Bandung. Sesampainya di rumah duka, tak pernah sedetikpun Tyaga melepaskan pegangan tangannya pada adik tingkat sekaligus sahabatnya yang terlihat sangat rapuh saat ini.
Ketika Hiranya dan kawan-kawannya sampai tepat di depan pagar kayu besar rumah di mana Hiranya dibesarkan, terlihat Yaskintani yang berlari dan langsung berhambur ke dalam pelukan Hiranya. Gadis itu menumpahkan tangisannya di pelukan sang adik setelah berjam-jam ia berusaha terlihat tenang di depan semua orang.